Bismillah..

Kisah ini kisah nyata, semoga kita dapat mengambil pelajaran atasnya.

Saya mengenal wanita ini ketika kami di tahun 2005-2006 sama-sama menempuh pendidikan di salah satu bank paling ternama di negeri ini.

Lulus, saya ke palembang ia ke makasar lalu bertemu lagi ketika kami kembali ke kantor pusat, satu gedung beda divisi.

Di tahun 2011 saya memajukan diri saya untuk berhenti dari pekerjaan yang penuh dengan riba. Mengapa? Karena Allah  jelas-jelas di Alquran surah Al Baqarah 275 berfirman, Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Allah juga dengan segala kemurahan hatinya sudah memberikan kami bisnis di tahun tersebut untuk kami jalankan.

Di tahun 2017 ketika saya menulis buku Investasi Ala Orang Gajian yang dipublish oleh Gramedia, kawan ini wa dan bilang ingin deh Go berhenti juga dari riba kaya elo. Saya hanya jawab niatkan insya Allah akan dibukakan jalannya.

Berjalan waktu ia juga menjilbabi dirinya dan akhirnya berhenti dari pekerjaan riba, fokus mengurus keluarganya.

Di tahun 2019 Allah menetapkan itulah tahun terakhir ia di dunia. Penyakit asma yang selama ini dideritanya kambuh dan ia wafat di jalan menuju rumah sakit gak tertolong.

Lihat bagaimana Allah mengatur hidup hamba-Nya, dari pemakan riba menjadi ibu rumah tangga bagi suami dan anak-anaknya.

Dan kisahnya menjadi bukti kebenaran sabda Nabi ﷺ yang ditempatkan Imam Nawawi pada kitab Hadits Arbainnya di hadits no-4. Di ujung haditsnya,

“Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya takdir, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya takdir, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga” (HR Bukhari dan Muslim)

Benarlah jg sabda Rasulullah ﷺ bahwa sesungguhnya amal-amal itu tergantung penutupnya (HR Bukhari).

Lalu pertanyaannya bagaimana kita kelak ketika Allah memanggil kita kembali? Apa kita sudah sempat mentaubati dosa-dosa besar kita selama ini? Apa sudah benar taubat kita? Apakah amal-amal sholeh yg kita kerjakan selama ini sudah cukup tuk jadi bekal kita dalam menghadapi lelah dan panjangnya hari akhir?

Yaa Rabb, kami sampaikan doa kami..

رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَكَفِّرۡ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ

Yaa Rabb kami, ampuni dosa-dosa kami dan hapuskan kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkan kami beserta orang-orang yang berakal (QS Ali Imron 193).

Aamiin.

Sebelum Semua Terlambat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *